Butuh bantuan? 083861272777 wikompayment@gmail.com

Benarkah Laju Bisnis Properti Terhambat Daya Beli?

Menurunnya tren kinerja pasar properti terjadi karena banyak faktor seperti kondisi ekonomi secara umum baik di dalam negeri maupun dunia, pesta demokrasi, laju investasi, melambatnya kinerja ekspor hingga faktor melemahnya daya beli.

Bagaimana perkiraan pertumbuhan bisnis properti di tahun 2020? Apakah pelaku bisnis ini masih memiliki optimisme?

Benarkah Laju Bisnis Properti Terhambat Daya Beli

Laju Pertumbuhan Bisnis Properti

Bisnis properti bisa dikatakan sudah cukup lama tidur. Setelah di tahun 2019 daya beli melemah akibat adanya pesta demokrasi baik pemilihan presiden ataupun pilkada, tahun 2020 ternyata belum menunjukkan peningkatan yang cukup berarti.

Ditambah lagi saat ini dunia menghadapi pandemi corona yang nyatanya cukup berimbas pada tren pertumbuhan bisnis properti. Banyak ahli mengatakan bahwa bisnis properti merupakan salah satu bisnis yang masih bisa bertahan di tengah pandemi. Hal ini terlihat adanya kenaikan sedikit pada bisnis ini.

Tahun 2020 diharapkan bisa menunjukkan peningkatan yang lebih baik bila dibandingkan tahun sebelumnya.

Bagaimanapun kebutuhan perumahan tetap tinggi apalagi bila melihat pertumbuhan jumlah penduduk di Indonesia pun masih cukup tinggi. Meski demikian, tantangan yang dihadapi pada bisnis properti tahun ini pun terbilang sangat besar.

Adanya pandemi covid 19 yang sangat berdampak pada ekonomi secara global pastinya berpengaruh terhadap melambatnya perekonomian domestik.

Pertumbuhan ekonomi di dalam negeri yang belum menunjukkan pergerakan berarti pastinya mau tak mau juga berpengaruh terhadap daya beli yang terbatas sedangkan di sisi lain supply banyak.

Daya beli masyarakat memang menjadi hambatan tersendiri pada pertumbuhan bisnis properti.

Hal ini bukan dikarenakan masyarakat tidak mau membeli namun lebih kepada ketidakmampuan masyarakat dalam melakukan transaksi pembelian rumah.

Penghasilan masyarakat yang mengalami kenaikan dibarengi dengan peningkatan harga-harga kebutuhan sehari-hari pastinya membuat uang bulanan sudah habis untuk menutup berbagai pos pembiayaan.

Bagi sebagian besar masyarakat transaksi pembelian rumah termasuk membayar cicilan rumah belum menjadi prioritas utama mereka. Inilah mengapa daya beli properti pun mengalami penurunan.

Tentu saja, ketika daya beli menjadi sebuah hambatan tersendiri terhadap pertumbuhan properti maka harga yang ditawarkan hendaknya juga disesuaikan.

Para pengembang pastinya tak mau rugi dengan menurunkan harga. Salah satu startegi yang bisa dilakukan adalah dengan memperbanyak promo dan diskon. Harganya bisa tetap sama namun diskonnya naik dari 5% menjadi 7-12% sehingga harga yang harus dibayarkan mampu dijangkau pembeli.

Bagaimana bisnis properti dalam mengakomodasi kebutuhan rumah para milenial? Kedepannya para milenial ini menjadi pasar yang paling besar.

Hanya saja, daya beli para milenial dinilai belum menunjukkan pergerakan sebagaimana angkatan tuanya. Inilah mengapa banyak pengembang melakukan strategi untuk bisa menyasar generasi sebelum milenial sebagai porsi utama pemasaran sedangkan target selanjutnya adalah para milenial.

Berdasar beberapa survei, daya beli para milenial pada masa sekarang adalah rumah-rumah senilai Rp 1 miliar yang mana hal ini tentu menjadi target tersendiri di kalangan pengembang properti.

Guna meningkatkan daya beli, asosiasi pengembang berharap adanya tambahan dukungan dari berbagai pihak mulai dari pemerintah yang menyiapkan fasilitas, perbankan dengan penyediaan program kredit lebih menarik, termasuk juga edukasi bagi para calon konsumen sendiri.

Dengan demikian, laju bisnis properti pun bisa melalui hambatan daya beli masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Chat with us on WhatsApp
WhatsApp
Call Now