Butuh bantuan? 083861272777 wikompayment@gmail.com

Indonesia tanpa Lockdown, Mengapa?

Istilah lockdown sangat sering dielu-elukan oleh sebagian masyarakat saat ini. Bahkan di sosial media, banyak sekali orang yang menyerukan agar pemerintah segera melakukan kebijakan tersebut. Memang, apa sih yang dimaksud dengan lockdown dan bagaimana pengaruhnya terhadap perekonomian di Indonesia?

Indonesia tanpa Lockdown, Mengapa

Dampak lockdown bagi ekonomi Indonesia

Lockdown, dalam konteks wabah virus corona atau covid-19 saat ini, berarti sebuah kondisi dimana mobilitas masyarakat dibatasi. Mereka tidak diperbolehkan untuk keluar meninggalkan rumah. Aktivitas di luar harus melalui izin terlebih dahulu atau hanya pada saat ada keperluan yang sangat mendesak.

Di Indonesia, istilah lockdown lebih dikenal dengan kata “stay at home” atau “di rumah aja”. Anda bisa melihat banyak postingan di sosial media yang menggunakan tagar tersebut. Masyarakat dianjurkan untuk bekerja dan belajar di rumah. Bagi para siswa, mungkin tidak sulit mengikuti kegiatan belajar di rumah dengan panduan orang tua atau terkoneksi internet dan gabung kelas-kelas online. Namun, bagaimana dengan para pekerja yang harus mencari nafkah di luar dan tidak bisa duduk diam di depan laptop atau handphone untuk melakukan pekerjaannya?

Meskipun di banyak negara, kebijakan lockdown terbukti mampu mengendalikan penyebaran Covid-19, tetapi di Indonesia sendiri pemerintah belum melakukan hal yang sama. alasannya yaitu:

  • Jumlah pekerja atau pencari nafkah informal di Indonesia mencapai 60-70%, dimana mereka mencari pendapatan harian. Jika terjadi lockdown, maka kemungkinan mereka tidak dapat bekerja dan membeli kebutuhan sehari-hari.
  • Distribusi barang dan jasa akan terganggu, apalagi masyarakat cenderung mengalami panic buying. Mereka yang memiliki banyak uang akan dengan mudah membeli produk sebanyak-banyaknya untuk persediaan pribadi dan bahkan ada yang menimbun untuk kemudian dijual lagi dengan harga tinggi. Bagaimana dengan rakyat kecil yang pendapatannya lebih kecil atau bahkan tidak menentu?
  • Bisnis di bidang transportasi tidak luput dari dampak. Kebijakan lockdown akan menghentikan mobilitas masyarakat sehingga mereka tidak lagi menggunakan jasa transportasi untuk pergi ke tempat lain.
  • Kurangnya sumber daya manusia untuk pengiriman logistik kebutuhan pokok apabila diberlakukan lockdown. Walaupun pemerintah sudah mengklaim tentang ketersediaan dana, tetapi kekurangan SDM masih menjadi tantangan yang dipertimbangkan saat ini.

Social distancing atau menjaga jarak saat ini masih menjadi solusi alternatif lockdown (karantina wilayah) di Indonesia. Pemerintah menghimbau agar masyarakat tetap patuh pada kebijakan tersebut. Apalagi pada momen menjelang bulan puasa dan lebaran, para perantau diharapkan untuk tidak mudik terlebih dahulu hingga suasana kondusif, demi melindungi kesehatan keluarga yang di kampung, terutama para lansia yang termasuk kelompok resiko tinggi terdampak virus corona karena daya tahan tubuhnya yang lemah.

Selain social distancing, kebijakan stay at home (di rumah aja) juga diberlakukan. Tentu saja, hal ini masih sulit dilakukan sebab ada banyak masyarakat yang mengandalkan pendapatan harian. Makanya, pemerintah melakukan langkah-langkah lanjutan seperti membebaskan PPH pekerja selama masa pandemi dan memberi keleluasan penundaan bayar hutang. Diharapkan seluruh lapisan masyarakat untuk juga bekerja sama dan mematuhi instruksi pemerintah agar wabah lekas berakhir dan ekonomi kembali membaik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hi there! Click one of our representatives below and we will get back to you as soon as possible.

Chat with us on WhatsApp
WhatsApp
Call Now